Tampilkan postingan dengan label skull of rocks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skull of rocks. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2009

Busuk

Dunia ini sudah busuk.

Rabu pagi, pojokan kelas, istirahat pertama, serta gigitan ketiga setangkap roti selai stroberi—klausa sarkas itu mendadak terlintas di pikiranku. Aneh. Tak biasanya aku berpikiran sekasar ini, apalagi pada dunia. Dunia yang sudah rela dan ikhlas aku injak-injak secara gratis selama 17 tahun ini. Sungguh tak tahu terima kasih. Tapi mungkinkah aku terpengaruh oleh sindrom bencana alam beruntun yang kerap menimpa dunia ini sehingga berpikiran seperti itu? Ataukah ini hanya sekedar serpihan dari beratus juta pikiran anehku saja?

Manik mataku membesar, pandangan mulai diedarkan. Suasana kelas mulai sepi, dan yang tersisa hanya tiga pasang sejoli berdarah muda yang tersebar ke daerah pojokan kelas. Aku memandangi mereka, dalam. Seketika teringat perkataan salah satu teman perempuanku: so sweet. Huek. Rasanya aku ingin muntah saat mengingat kata itu. Kenapa? Karena sebenarnya diri ini hanya merefleksikan satu kata saja: nafsu. Atau lebih tepatnya, nafsu yang direplikasi dan dikamuflasekan lalu diberi nama cinta.

Aku tak tahu mengapa mereka senang berlaku seperti itu, karena aku tak pernah sekalipun berlaku seperti itu. Mataku memandang lagi. Nanar. Sungguh, mereka semua adalah penyembah satu Tuhan, dan lancar membaca firman-Nya. Tapi apakah asosiasi budaya para ras miskin pigmen itu dapat mengalahkan pedoman agama mereka? Dan apakah mereka mendapat manfaat dari perilaku seperti itu? Kurasa tidak. Ingin rasanya mulut ini mengatakan kebenaran pada mereka, tapi sayang, terbentur oleh portal yang bernama pertemanan dan sensitivitas. Lagipula apa gunanya menegur mereka kalau ternyata masih banyak sejoli diluar sana yang lebih asusila? Percuma.

Kebusukan ini bermula dari nafsu.

Sebuah klausa terlintas—lagi.

“Chi, kerjain tugas kesenian yuk!“

Glek. Mendadak serpihan kulit roti tersangkut di kerongkongan. Segera kuambil botol minum oranye dan kutumpahkan isinya ke dalam kerongkongan seraya mengangguk asal, “Uhuk. Oke deh.“

***


“Bagian saya mana, Pak?“

“Tenang aja, Din. Kamu pasti dapet. Uangnya masih di rekening saya, ada orang tua murid baru yang belum transfer. Nanti kalau udah terkumpul semua saya bagi rata.“

“Dibagi rata? Disini kan ada 50 lebih guru, nanti dapetnya dikit dong? Jangan gitu dong Pak. “

“Yaelah, Din. Lu jangan bego kayak para orang tua murid baru yang mau-mau aja kita porotin itu dong. Yang dibagi yang deket sama saya aja lah.“
“Oh. Oke deh, sip Bos!“

Bruk.

Modul Biologi kelas 3 SMA—jatuh, sehingga membuat dua lelaki yang sedang berbincang di dalam ruangan itu menoleh ke jendela. Bersyukur awan di sore ini sedang berkabung, meminimalisir cahaya matahari yang bisa merefleksikan wajahku. Refleks, aku langsung mengambil modul lalu berlari tergesa-gesa menuju gerbang Sekolah Menengah Atas ini.

Ralat, Sekolah Maling Atas.

Langit mendung dan awan berkabung serta sesosok perempuan nerdus menjadi saksi atas perubahan nama itu. Haha. Sungguh ironis, kawan. Instansi pendidikan yang seharusnya mengayomi serta mendidik generasi penerus bangsa, malah melakukan tindakan terkutuk, padahal setiap hari ucapan baik beserta wejangan selalu diberikan kepada anak didiknya. Lalu dikemanakan semua wejangan itu? Apa itu hanya omong kosong dan bualan sampah yang digunakan untuk mendapat gaji dari profesinya?

Dasar manusia berotak tikus got.

“Hoi, Chi! Pulang bareng yuk!“

Interupsi datang, membuyarkan segala lamunan. Kutolehkan kepalaku ke samping, dan retina langsung merefleksikan bayangan Hima, teman sekelasku. Anggukan singkat serta seulas senyum simpul terukir, “Ayo!“

***


“Bang, SMS siapaahh... si abaang. Bang katanya pake sayang, sayaaangh...“

Hppft—suara yang dikeluarkan oleh semua penumpang angkot. Refleks, aku langsung menutup mulutku dengan tangan ketika seorang perempuan jadi-jadian melantunkan lagu di kala lampu merah. Syair lagu pun terus berjalan, tetapi pikiranku tak sejalan. Salahkan rok ketat beserta tanktop yang melekat pada badan kekar hasil operasi itu. Kulit sawo matang yang tidak kompatibel dengan polesan make-up serta suara bass yang dipaksa alto menambah ciri kromosom Y dari manusia itu.

Sungguh wanita perkasa.

Katakan mulutku jahat, hujat karena pikiran ku sarkas—aku terima. Tapi entah mengapa, kali ini integrasi antara sel-sel otakku berkata lain. Berkata sesuatu yang lebih... lembut.

Kasihan.

Bukannya di tolong, manusia yang sakit mental sehingga melanggar kodratnya ini malah ditertawakan. Jahat. Dan tolong diingat, memberinya uang receh bukan suatu pertolongan. Kenapa? Karena hal itu membuat dirinya terus menerus berbuat seperti itu, membentuk sebuah sugesti bahwa ‘ini adalah cara yang benar untuk mencari nafkah‘. Padahal benar-benar salah, dan dilaknat oleh Tuhan. Kalau begitu bagaimana cara menolongnya?

Berdoa saja agar Tuhan memberikan hidayah padanya.

Itu saja, sepertinya cukup. Memangnya mau apa lagi?

***


Selamat, Anda mendapatkan hadiah bernilai 500 juta rupiah. Untuk keteranga lebih lanjut, silahkan hubungi nomor ini 08236542378. Jangan sampai kelewatan!
Dari: 08956423567


Tsk. Cara klasik.

Handphone hitam berkamera VGA terhempas di atas kasur bersamaku. Kuhirup oksigen dalam-dalam, karbon dioksida pun segera keluar. Capek, dan kegiatan sekolah hari ini bukan alasannya. Lalu apa? Yap, SMS itu. Aku letih melihat SMS penipuan klasik seperti itu, dan lebih letih lagi ketika melihat berita di televisi bahwa masih ada saja manusia yang tertipu oleh tipuan cetek macam itu. Tolol.
Kutaruh bantal guling diatas dua lapis bantal, kujadikan sandaran. Kucoba memejamkan mata untuk tidur siang sebentar, dan menikmati imaji setengah tidur yang abstrak. Kuharap aku segera bermimpi, tapi tidak. Ingatan-ingatan fotografis sejak istirahat pertama sampai di angkot tadi sekelebat tampak pada alam pikiranku. Dan hal itu semua merangsang sel-sel neuron otak untuk berintegrasi secara absurd lagi, lagi dan lagi.

Dunia ini sudah busuk.

Maafkan aku dunia, klausa itu muncul dalam pikiranku lagi. Salahkan pola integrasi absurd sel-sel neuron ini. Tapi nyatanya bukti-bukti dari kebusukan itu sudah terungkap secara implisit tadi. Kamuflase nafsu, manusia-manusia tikus, melanggar kodrat, serta penipu barusan. Dan dengan sangat menyesal,aku tak dapat memungkirinya. Aku mengakuinya.

Wahai dunia, kau memang sudah busuk. Bukan karena dirimu, bukan. Tapi akibat perilaku penghuni gratisan-mu yang katanya berakal tapi tidak tahu diri ini. Berbuat kerusakan seenaknya, padahal hakikat mereka berada disini adalah untuk merawat dan memanfaatkan segala kekayaanmu dengan sebaik-baiknya. Tapi apa yang terjadi? Semua kekayaanmu mereka habiskan, terlebih lagi ditambah dengan perilaku asusila yang terus terjadi. Kau pasti merasa sakit, aku tahu itu. Dan aku kasihan padamu, dunia. Tapi apa yang dapat kulakukan? Tidak ada. Bagaimanapun juga, aku bagian dari mereka. Aku seorang Homo Sapiens. Yang bisa aku lakukan hanya bisa berpikir, tanpa melakukan sesuatu yang signifikan, sementara manusia lain asyik melakukan kerusakan tanpa rasa bersalah dan kepura-puratidaktahuan.

Tuhan, kenapa kau tidak marah?

***


Kelopak mata mulai bergetar, tak lama manik hitam pun mulai tampak. Bayangan yang direfleksikan retina masih kabur—seperti biasa. Kuraba samping kanan untuk mencari kacamata silinder, tidak ada. Kuraba sisi kiri, nihil. Yang aku temukan malah puing-puing bangunan beserta pecahan kaca dan tanah. Kupijakkan kaki ke atas tanah. Bruk—tersandung batu bata. Perlahan kukerutkan otot atas mata, dan bayangan kabur mulai menajam. Tebak, apa yang aku lihat?

Langit, yang terlalu luas. Membentang, tanpa halangan gedung-gedung dan rumah seperti biasa—karena semua bangunan itu sudah… rata dengan tanah.

Bruk.

Lututku menabrak tanah yang retak—sakit. Tapi tak sesakit apa yang dirasakan hati ini. Kutolehkan kepala ke segala arah, sepi. Tak ada makhluk hidup disini. Yang ada hanya sesosok tubuh Bu Linda, tetangga sebelah, yang sudah membiru dan tertimpa runtuhan bangunan. Kucoba melangkah sedikit kedepan, suasana yang tampak lebih mengenaskan. Bu Yesi, Pak Toni, Ina, beserta tetangga lainnya sudah membiru, tak bergerak. Tiba-tiba saja jantungku berdentum keras, nafasku sesak.

Ibu, ayah, kakak, adik, kalian dimana?

Seluruh badanku gemetar, namun aku tetap memaksakan diri untuk berjalan sekitar puing-puing rumah untuk mencari mereka. Serpihan kayu, genteng, tumpukan batu bata, sudah kucari dan hasilnya nihil. Tak terasa bulir air mata sudah mengucur deras, menemani pencarianku. Dan hasilnya tetap sama; nihil. Sungguh, kenyataan ini terlalu menyeramkan. Seseorang tolong beritahu aku, apa yang baru saja terjadi?

Tuhan baru saja marah.

-TAMAT-

Minggu, 24 Mei 2009

SSP 2009

_____________________________________________________________________________________
”Li, SSP jadi seksi apa?”

“Hah? Um… dekor kalo gak salah.”

“Trus udah ngapain ajah?“

“Ngapain—um... gak tau gw. Gak pernah ngumpul, gabut soalnya.“

_____________________________________________________________________________________

Itu yang terjadi taun lalu. Nah, kalau taun sekarang?
_____________________________________________________________________________________

“Duh, kekurangan kardus nih. Duh, ntar bikin pohonnya pake apa yah? Waduh, kok disuruh bikin ID juga sih? Lah, kenapa yang datang kumpul cuma dikit ini? Padahal kan udah di jarkom. Aaarghh... pulsa gw abis lagi gara-gara ngejarkom. Waduh, udah H min sebulan belum bikin apa-apa lagi bwt dekor. AAAARGHHH...“

“ILY SEMANGAT!“

“.....................................................“

_____________________________________________________________________________________

Yep. Itulah yang terjadi tahun ini. Lieur, panik, pusing, semuanya menjadi homogen. Dan gw yakin, hal yang sama terjadi juga pada para koordinator. Juju raja, menurut gw jabatan paling sulit dalam kancah pereskulan Smansa adalah menjadi (ketua) koordinator. Well, kenapa? Bukannya gw ngegampangin tugas DH, tapi menurut gw (ketua) coordinator adalah jabatan yang ibaratnya ‘langsung turun ke lapangan’. Karena koordinator itu yang langsung ngerangkul, ngajakin para anggota—which is fondasi dari organisasi itu—untuk ikutan bekerja. Nah, kebanyakan anggota itu gabut-gabut. Dan kalo banyak yang gabut, yang kena imbas ya koornya. Yah, pokoknya jackpot deh yang dapet jabatan koor.

Dan gw telah mendapatkan jackpot, dobel lagi.

Seperti yang dipostingan yang lalu, gw emang jadi kakoor divisi kimia. Nah, dalam SSP ini ternyata gw mengemban amanah jadi koor dekorasi (padahal taun lalu jadi anggota juga gabut gelow). Dan saat tugas presentasi penelitian berduet dengan ngedekor adalah nightmare bagi gw. So, wejangan dari gw:

Jangan mau jadi kakoor divisi kegiatan trus jadi koor di SSP. It’s a nightmare.
*ditampol DH*

Oke, dalam SSP ini gw paling Cuma ngebahas dekor aja yah. Soalnya yg lainnya gw gak terlalu merhatiin. Hoho.

Oke, dimulai dari job desk pertama yang terselesaikan. Please welcome—the logo of the SeSeP!!



Disketch dulu pake pensil sama gw dan Dessu. Trus gw foto pake digicam, lalu dijiplak pake Corel Draw. Shadow sama fontnya pertolongan Adobe Photoshop.

Uwoooh. Lalu setelah membuat logo, dekor hiatus dulu akibat gw sibuk nyiapin penelitian. Akhirnya setelah bulan Maret—pertengahan April kalo ndak salah—dekor mulai menyusun rencana. (halah) Konsep awal memang membuat aula nampak seperti hutan. Dan gw pun mulai mempertimbangkan untuk membuat sulur-sulur dari koran yang di-wantex coklat trus dililitin ke kawat. Untuk binatang-binatangnya, digambar manual di atas Koran trus dicat pake acrylic. Setelah itu ditempel di kardus. Nah, buat pohonnya awalnya belum tau. Pokoknya, intinya gw pengen dekor taun ini itu pake barang-barang bekas, biar ramah lingkungan gitu loh. (bilang aja kagak modal)

Oke, rencana sudah tersusun—waktunya mengumpulkan anak-anak. Berbagai jarkom sudah dilayangkan, namun hanya sedikit yang mengamanahi. Pedih, memang. (lebai gelow gua) Tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya gw pun tidak mengandalkan jarkom, alias gw datengin anak-anaknya satu-satu! Berhasil, lumayan sih. Yang gak pernah ngumpul jadi ikut kumpul—walo ada yang Cuma sekali sih. Yah, setidaknya semuanya sudah bekerja, kalo menurut gw. Walo sebenernya ada satu yang gak kerja sama sekali karena dia sibuk banget ngurusin acara eskul lain. Karena gw koor yang baik hati nan tidak sombong, gw ijinin lah. (huek)

Walhasil, waktu terus berjalan. Gw yang emang dari sononya pemales jadi belum ngapa-ngapain bwt dekor. Gw terlena dengan ulangan-ulangan dan tugas sekolah, hingga pada H min sebulan, gw terperanjat dan langsung berteriak keras, “OHMYGOAT! DEKOR BELUM NGAPA-NGAPAIN IEU!“

Oke, lebai.

Tapi untungnya, atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, gw bisa bertahan. Gw pun mulai terlihat seperti maniak, karena tiap ketemu anak dekor selalu mengancam mengajak bekerja. Walhasil, tibalah hari Jum‘at, sesaat sebelum libur UAN. Gw merencanakan membuat backdrop bersama yg lain. Tapi yang kerja cuma beberapa orang. Nasiiib...nasib.

Walhasil backdropnya belum beres. Jadinya dilanjutin dirumah Dessu (thengkyou peri mach!) waktu hari Rabu pas libur UAN. Sungguh tidak menyenangkan, kawan. Saat teman-temanmu meng-IM, “Liburan kemana, Ly?“ Gw hanya menjawab, “Liburan gw buat SSP.“ (aaaseeekk...)

Hasilnya, sangat tidak mengecewakan ternyata. Kalo diliat dari jauh sih bagus banget. Kalo dari deket..keliatan nistanya nih. Haha. Cat-cat yang tebel tipis lantaran banyak ngoplos. Wkwkwk. Btw, backdrop ukuran 4 x 1.5 m ini dibuat dengan budget kurang lebih 140 rb. Mahal weh.


Backdrop sudah dipasang di aula.

Ternyata backdrop beres bukan berarti gw bisa bernapas dengan lega. Dekoran yang lainnya kan belum beres. Uwow. Gw pun kelimpungan. Tapi kemudian Deden sang ketupat yang baik hati nan tidak sombong pun menawarkan agar semua panitia membantu dekor. Gw dengan semangat ‘45 langsung mengatakan ‘OH YEAH‘ dan mulai menyusun strategi lagi. Walhasil, liburan 3 hari UAS gw kontribusikan bwt SSP lagi. Lumayan banyak panitia yang dateng (tengkiu! muach! hoek) Dan karena agenda hari ini menggambar dan mewarnai binatang, walhasil di altar jadi udah berasa TK ajah. Hari itu cukup produktif, menghasilkan beberapa binatang, diantaranya sapi, ayam, kodok, beruang (dibuatnya hari lain sih), dll.

Daaaan—hari terus berlanjut. Gw mulai memikirkan, kapan membuat sulur? Walhasil H minus 2 hari mulai membuat sulur. Yang bantuin gak terlalu banyak sih, soalnya rata-rata pada capek abis KORMA. Gw sendiri sih gak ikut, walo sebenernya panitia, dekor lagi. *ditabok* Abisnya kalo gw ikut gw pasti tepar en gak bisa ngedekor. Maap yeh panitia-panitia KORMA!

Well, well, well. Tanggal 11 Mei. SSP dimulai. Good news bwt dekor, soalnya aula dipakai tanggal 13 Mei, so ngedekor aulanya hari Rabu. Hari Selasanya, gw pun mulai menyelesaikan si sulur. And thanks Lulu, sudah member ide bikin pohon dari bungkus semen. And thanks to supirnya Deden, sudah mencarikan bungkus semen. (mmuach. *hoeck*) Tapi kan rencananya sore Selasa ini mau masang dekor. Tapi karena keresean sekolah yang alamakjang aula bari dibuka jam 5 sore. Karena waktu yg tak memadai, gw memutuskan untuk didispenkan saja pas hari Rabu. Deden pun mengiyakan, gw meminta Dessu, Lulu, dan Dinda untuk mendampingi gw mendekor. *halah*

Hari Rabu. Gw dkk dispen dari pagi—oyeah. Blablablablabla—mulai mendekor. Hasilnya seperti ini:


Gw, Dinda, Dessu.


Dessu (paling belakang), Gw, Dinda


Well, udah pada tau kan?

Dekor pun selesai. Alhamdulillah. Panitia yang laen, guru-guru, alumni, dan peserta pun memujinya. ALHAMDULILLAH. Rasanya gw pengen sujud syukur saat itu juga. Dan setelah itu—acara pun berlangsung. Dan kerjaan gw beres. Hoho. Enaknya jadi sie dekor gini nih. Pas udh prek acaranya nyantai. Tp yg ga enaknya sebelum-sebelumnya yang repot bin riweuh. Hoho.

FYI, dekor tahun ini cuma ngeluarin 195.200 rupiah. Selisih berapaa gitu *males ngitung* sama dekor tahun lalu yang hampir 300rb-an. Hoho. Gw emang titisan Mr. Krab.

CLOSING

Wew. Saat closing (hari Minggu 23 Mei) pun tiba. Dekor? Tinggal dipindahin dari aula ke tenda doang sih. Hehe. Tapi maap yah panitia gw gak dateng pas masang dekor di tenda. Abisnya kalo Sabtunya dateng ntar pas closingnya gak boleh dateng. Hiks. Nasip. Dan—sayangnya, gw gak moto-moto nih pas closing. Saat closing gw sibuk nyiapin stand kimia—which is yang gaje en bakar briket doang gara-gara percobaan ‘instant ice’ gagal. Hiks. Nasip.

Tapi overall, closing keren pisan. Walo hari Minggu jd yg dateng keliatannya dikit, tapi acara bisa terlihat bersemangat en ceria. *mutilasi jempol orang* 8 jempol deh buat Host Closing yg heboh sendiri, garing, tapi seru—Indri en Anoy (Yani kuadrat). Trus standing ovation deh buat panitia, soalnya guru-guru en peserta juga pada muji. Trus acara pun ditutup dengan poto-poto lalu dilanjutkan dengan Rapat Evaluasi yang jadi mirip muhassabah sampe pulang dari sekolah jam 7 malem. Pas Rapel, banyak yang nangis akibat pada flashback. Tapi gw gak bisa nangis, soalnya gw seneng. Kalo gw seneng ya gw ketawa, gak bisa nangis. Hoho.

Pokoe SSP mantap dah! Taun depan gw gak mau tau, harus lebih keren dari taun ini! KIR’ers Perisai Kesatria, I DARE YOU! *dibekep*

(syudah ah pegel)

Sabtu, 11 April 2009

Hikayat si Ndut.

Alkisah di sebuah negeri tempe, hiduplah seorang anak perempuan, berkulit sawo matang, berambut lebat seperti singa jantan, mempunyai kelebihan; yaitu berat badan. bernama F**L* atau kita sebut saja si Ndut. Si Ndut ini merupakan anak yang aneh. Terlalu banyak anomali dalam dirinya, karena sifatnya yang sering berubah-ubah tak tentu. Terkadang baik, terkadang nyeremin. Kadang membuat orang tertawa, kadang membuat orang menangis. Yah, pokoknya begitulah. Intinya, jangan dekat-dekat dengan si Ndut ini, atau kalian sendiri yang akan merasakan akibatnya. Mwuahahaa!!

Oke, cerita pun terus berlanjut. Dan alhamdulillah si Ndut ini dapat bertahan hidup sampai jenjang High School alias SMA. Dia pun masih tumbuh menjadi anak yang berkepribadian ganda. Akan tetapi keanehan mulai muncul saat ia beranjak kelas 2. Mendadak, banyak temannya yang memberikan amanah padanya. Sebenernya gak banyak-banyak amat siih. Tapi ya... mungkin emang amanahnya itu banyak aja kali yak? *ditabok pembaca karena geje*

Oke, oke, maaf telah meracau. Deskripsi instable. Akhirnya dengan pasrah si Ndut pun menerima kedua amanah yang berasal dari satu eskul tersebut, walaupun awalnya ia merasa kaget, dan muncul pertanyaan di benaknya, 'kenapa orang seimbisilaneh saya ini bisa mendapat kepercayaan seperti itu?". Akan tetapi akhirnya ia pun makin pasrah dan menerima keadaan, hingga perjuangan menjalankan amanah itu pun dimulai.

Awalnya, proses penjalanan amanah tersebut sepertinya berjalan baik. Intinya, ia tidak terlalu stress dengan amanah yang telah diberikan tersebut. Akan tetapi tiba-tiba, semua itu berubah [backsound: eng-ing-eeng] saat si Ndut mulai iseng dan mencoba peruntungan dalam bidang kimia. Ia pun ikut tes yang bernama 'Olimpiade Kimia' di sekolahnya. Kemudian dengan tampang tengil karena datang ngaret 35 menit dari waktu tes, ia pun mengerjakan soal dengan selow. Selow walaupun soalnya sama sekali gak nyelow. Walhasil cuma 15% soal keisi dengan 10%-nya adalah racauan.

Oke, oke, oke. Kehidupan terus berlanjut. Si Ndut pun masih terus menjalankan amanah wajibnya sebagai pelajar yaitu mengerjakan tugas sambil mengemban amanah eskulnya (menjadi koor kuadrat). Akan tetapi kestabilan dari ketiga atom yang bernama amanah itu pun terganggu ketika salah satu ikatana rangkap membuka sehinnga si atom mengikat atom sejenis lain. Ingat, bahwa atom amanah punya tangan empat, karena elektron valensinya 4.

Stop all these chemi-things, Ndut.

Intinya, si amanah pun bertambah, ketika ada berita bahwa ia lulus seleksi olimpiade tersebut. Ia tak tahu harus senang atau sedih, karena hatinya pun bergumul perasaan antara malas dan rajin. Akan tetapi dirinya pun mencoba untuk nyelow, hingga pada saat...

[beksound: jreeeng!]

...seluruh kalender dunia dibalik ke angka 4. Yap, bulan April. Dimana bulan yang penuh dengan tugas bejibun, ulangan bejibun, serta pelaksanaan amanah koor kuadrat itu sedang gress dilakasanakan. Dan berita buruknya, seleksi olimpiade tingkat kota pun dimulai bulan April, sehingga banyak dilaksanankan pelatihan-pelatihan (baca: pembakaran otak) yang dilaksanakan di gedung FAPET, bagian FMIPA-IPB. Dispen pun gencar dilakukan, membuat hutang tugas plus ulangan makin menumpuk. Belum lagi dengan amanah koor kuadrat yang belum difungsikan dengan baik. Ah, rasanya si Ndut ini ingin mati suri saja untuk beberapa bulan.

Dan hingga sekarang...keadaan pun masih terus berlanjut. Dan bodohnya lagi, si Ndut ini bukannya belajar dan mengerjakan hal yang tidak penting. Contohnya seperti meng-update blognya yang sudah mulai membusuk dan akan terurai oleh detritivor.

Jadi intinya... bagaimana kisah kelanjutan si Ndut ini? Apakah dia akan mengemban amanahnya dengan baik?? Well--kita lihat saja. {dalam hati: doakan saya ya!)

Salam gelow.

Rabu, 03 Desember 2008

Dia adalah titisan Obama

Masih inget postingan yang ini? Yupz, sekarang gw akan membahas tentang seseorang yg gw bicarakan di postingan yg itu.

Sebenernya kejadiannya udah agak lama c,, kira" seminggu yang lalu. Tapi gw br sempet nyeritainnya sekarang, mumpung lagi libuur... (padahal besok ulangan). Hehee...


Jadi begini, pada suatu hari kamis, kelas gw; XI IPA 7 seperti biasa abis istirahat akan ada pelajaran B. Indonesia. Kebiasaan gw, kalo mw pelajaran b.indo gw langsung buru" masang iket pinggang. Karena gurunya itu suka ngerazia gitu, rese sih. (anak smansa pasti tau lah gurunya siapa).

Setelah itu, pelajaran pun dimulai. Ternyata, materi hari itu adalah tentang memberi sambutan dalam pidato alias berpidato. Guru gw dengan nyantainya nyuruh anak" baca pidato sambutan singkat yang ada di buku dalam beberapa menit, trus nanti akan dia tunjuk beberapa anak buat maju kedepan mempidatokan ulang tanpa teks. Seketika, anak" kelas gw-termasuk gw-pun langsung diem en ngapalin entu pidato. Isi pidatonya sih tentang sambutan kepala sekolah tentang acara Jum'at Bersih. Intinya sih ngomentarin kebersihan di sekolah dan bla...bla... Yah, u know lah.

Beberapa menit pun berlalu, dan akhirnya guru gw, menunjuk beberapa temen gw untuk maju ke depan. Salah satu yg ditunjuk waktu itu adalah Rao, temen sekelas gw yang emang kayaknya terlahir untuk melucu, jd pas dia pidato dia malah bilang "Apakah ada tambahan dari penonton??" Dan seketika pun anak" kelas ketawa terbahak-bahak. Masa ada pidato yg minta tambahan dari yg ngedengerinnya?

Seusai terbahak-bahak oleh pidatonya Dik Rao (sebutan gw pd c Rao), guru gw pun menunjuk seseorang untuk maju. Ternyata yg ia tunjuk adalah: si Dancer Boy

Lalu si Dancer Boy (disingkat DB) pun berjalan ke depan kelas. Apakah dia akan menari lagi seperti waktu itu?? Ooow...ternyata... TIDAK. Rupanya belajar di kelas gw selama beberapa bulan memberinya pelajaran bahwa berjalan ke depan kelas dengan nge-dance itu sangatlah buruk dan berakibat ampe dimasukkin ke blog orang. (hehe)


Lalu mulailah si DB itu berpidato.
Dia mulai memegang microphone. Dan membuka mulutnya lebar.

"HELLOOOO..."

Anak-anak kelas pun menjawab, "Helloo..."

Ia pun mulai berkata lagi,
"Ok now, I want to talk about bla...bla...(im porget) in this..."

hening sebentar...

"SCHOOL!!"(seraya menunjuk meja dengan telunjuk dengan ekspresi lebai)

gw mulai merasakan feeling aneh. jangan-jangan tu anak mau bikin kehebohan lagi, pikir gw.

Trus dia ngomong lagi,

"Look at that! That is not clean!" (menunjuk ke lantai yang ada sampahnya) "You know what?! THAT IS NOT CLEAN!!"


Hening.

Tiba-tiba si DB menjatuhkan diri ke lantai lalu mengesot-ngesot sambil nunjuk-nunjuk sampah dan teriak-teriak,

"You see that?! You see this?! That is not clean!!! THAT IS NOT CLEEEAANNN!!!!!"

Seketika gelakan tawa membahana dikelas gw. Saking kerasnya suara tawa di kelas gw, gw ampe ga bisa ngedenger pidato tu anak lagi. Gw juga ngakak sekeras-kerasnya karena walo diketawain begitu, tu anak tetep ngesot-ngesot en teriak-teriak nunjuk-nunjukin sampah.

Hingga sampai titik klimaksnya, dia pun bangun, dan ngomong lagi,
"Ok now, we must to keep our school clean, yeah, CLEAN, What?!"

Anak-anak pun menjawab dengan serentak,
"CLEAN!!"

Lalu tiba-tiba dia teriak ala band emo yang lagi screamo,

"WHAAAOOOOO...!!!"

Anak-anak kelas pun tambah bising. Ada yg bilang, "YOU ROCK!!!" trus ada yang teriak, "YEAAAH...!!!"
Tapi tak tahu kenapa tiba-tiba anak" co kelas gw serentak teriak-teriak,

"OBAMA...!! OBAMAA...!!!"

Si DB pun tersenyum dan memasang muka METAL dan berkata untuk yang terakhir kalinya,
"That's all from me. Remember that, you must keep this school clean. Yeah, CLEAAN!! WHAT?!"

Anak" pun menjawab dengan serentak, "CLEAN!!"

Lalu dia pun langsung kembali ke tempat duduknya dengan santai. Tapi, beberapa anak masih teriak-teriak,

"OBAAMAA..!! OBAAMAA...!!"


Lalu gw,yang udah sakit perut dan keluar air mata gara" overload ngakak pun berpikir sejenak, mungkin benar, DIA ADALAH TITISAN OBAMA.


*salam jashevo!

Kamis, 20 November 2008

Ulangan fisika-ku yang menyayat hati...

*Bedeuuuhhh... judulnya ga nahan mameeen...
(ketauan bgd nih lebai modenya lagi on. Hwhwhww... :D)


Ok, dueh, let's start the story....
Jadi begini, ceritanya gw kan sekolah. Trus di sekolah itu gw belajar, nah, karena gw sekarang udah kelas 2 SMA, gw belajar fisika. Naah, di dalam pembelajaran fisika itu ada ulangan. (YAEYALAH!)

*Fokus li... FOKUS!!!

Ok, jd kesialan beruntun gw dimulai dari ulangan fisika bab 3, yang judul babnya itu APLLICATION OF NEWTON LAWS (kata c ibu wahyuli mah, artinya dah pada tau kan??). Yah, seperti biasa, bab itu berisi tentang setumpuk rumus dari hasil penemuan Oom Newton yang sekarang wajib kita pelajari.

Nah, menurut timetable pelajaran fisika yang sudah dibuat dengan terperinci dan dilaksanakan sepenuh hati (cuma sama c ibunya doang), ulangan bab 3 itu dilaksanakan pada tanggal 10 September 2008, yaitu bertepatan pada saat bulan puasa. Entah karena-lapar-atau-haus-atau-apalah, gw mulai melakukan suatu kebodohan yang fatal dalam mengisi soal ulangan itu.

Dan lebih fatalnya lagi, gw tidak mengecek lagi ulangan gw (entah karena-lapar-atau-haus-atau-apalah) dan langsung mengumpulkannya pada ibu wahyuli.

Ternyata, pada saat ulangan dibagikan, firasat buruk pun muncul... dan ternyata... gw dapeeet... 85, (alhamdulillah gak diher). Dan ternyata eh ternyata, gw check tuh ulangan mana yang salah. Gw pikir, mungkin gw salah nulis rumus, salah persepsi soal, or salah ngitung. Ternyata ow ternyata...

GW SALAH NULIS ANGKA

Yap! Gw ternyata SALAH NULIS ANGKA. Angka yang seharusnya gw tulis 4, gw malah nulis 5. Dan itu menyebabkan gw kehilangan 10 poin. Yaah, mungkin gw c ga terlalu mikirin nilai. Tapi yang gw kesel adalah, gw melakukan kesalahan yang SEPANTASNYA DILAKUKAN OLEH ANAK KELAS 1 SD. Ooow... itu sangat menyayat dan mengiris-iris hati dan otak gw... Oooowww.. so deeep...

Setelah kejadian so deep itu, gw mencoba bersabar, dan terus bersabar. Gw pikir mungkin hal itu terjadi karena faktor lapar-atau-haus-atau-apalah, dan gw mencoba lain kali kalo ulangan lagi jangan kaya gt...


Dan ternyata... Kesialan itu masih terus berlanjut.
Ulangan pun berlanjut ke BAB 4, yang berjudul SIMPLE HARMONIC MOTION (gerak harmonik sederhana). Isinya tentang pegas, dan bla-bla-blaa.
Dan seperti biasa, gw mengumpulkan ulangan pada si ibu wahyuli dengan perasaan biasa saja.

Pada saat dibagikan ulangan, gw deg-deg-an dan terus berharap semoga gw bs lolos dari lobang her. Dan alhamdulillah, gw ga diher. dan sebenernya skor gw hampir mendekati betul semua. Gw pun mencari titik kesalahan gw. Dan ternyata ow ternyata kesalahan gw kali ini...

Gw lupa nulis satuan dan gw nulis 'phi' kayak huruf 'n'

MEMANGNYA KENAPA KALO GAK PAKE SATUAN?? MEMANGNYA KENAPA KALO TULISAN SAYA JELEK?? gumam gw dalam hati.
Gw pun langsung protes pada c ibu. Dan ibu wahyuli, yang suaranya serak-serak becek nan seksi itu pun berkata dengan tegasnya, "Kan memang sudah peraturannya begitu."

Mendengar perkataan itu, hati gw sakit, sakiit sekali.
Saat itu juga, gw ingin sekali menjerit...

"OOH, EINSTEIN... APA DOSAKU PADAMU?!"

*sabar...li... sabar... nyebuuut...nyebuut...
Ahirnya gw pun beristighfar dan bersabar, dan pasrah pada Allah SWT. Mungkin, ulangan berikutnya, tak akan terulang lagi...


Ternyata oh ternyata, itu kan cuma MUNGKIN. Di ulangan bab 5 ini, gw melakukan kesalahan yang bodoh lagi. Yaitu,

Lupa membalikkan angka

Ok, ok, I have learned from my bad experience. Sekarang gw udah ga sakit hati lg. Gw udah kebal. Hati gw sudah membentuk sistem antibodi untuk melawan virus yang namanya kesialan, kecerobohan, dan keteledoran. Dan sekarang... dapat gw simpulkan dengan sebuah persamaan, yaitu:


3x ULANGAN FISIKA = 3x SAKIT HATI = TRIPLE MADESU


Dan ingatlah wahai kawan sekalian, bahwa experience is the best teacher, maka dari itu, belajarlah dari pengalaman kalian, baik itu pengalaman yg baik atau buruk.
*tapi teacher yang best belum tentu ber-experience lhoooh...

Hwhwhwhwhw...

Bye2